Sabiilun Na’iim Barak Amal 1992

Mari berikhtiar untuk memperhatikan yatim-piatu

Sedekah Cerdas

Posted by snba1992 pada Desember 10, 2007

Siapa ingin doanya terkabul/dibebaskan dari kesulitan, hendaknya ia
membantu/mengatasi kesulitan orang lain
(HR. Ahmad).

Kepada siapa Anda memberikan sedekah kemarin? satu hari sebelum kemarin? satu
pekan yang lalu? bagaimana dengan hari ini atau besok? kemana sedekah Anda disalurkan? Sekadar merata-rata jawaban yang mungkin keluar dari sederet
pertanyaan di atas, pilihan pertama boleh jadi jatuh ke tangan anak-anak yatim,
kemudian fakir miskin, janda, dan lansia berada di urutan berikutnya.

Salah satu kelebihan orang-orang yang sering bersedekah terletak pada
keikhlasan.
Mereka sangat percaya dan tak pernah mempertanyakan kemana dan
kepada siapa sedekahnya berlabuh. Terkecuali bagi mereka yang lebih senang
menyerahkannya langsung kepada penerima manfaat. Namun bagi para penyedekah
yang meletakkan amanahnya di pundak para pengelola sedekah/infak, kepercayaan
menjadi dasarnya.

Meski bukan berarti mereka yang tidak menyalurkannya lewat lembaga pengelola
sedekah, dianggap tidak percaya kepada berbagai lembaga tersebut
. Ini hanya
soal `selera` masing-masing individu yang tidak boleh diganggu-gugat dan patut
dihormati.

Yang perlu diingat, kepercayaan bukan berarti tak perlu tahu kemana sedekah
Anda tersalurkan
. Boleh saja setiap individu meminta penjelasan kepada siapa
dan untuk apa sedekah yang disalurkannya tertuju. Bukan bermaksud mengabaikan
prinsip keikhlasan, namun dalam bersedekah sebaiknya Anda tahu alamat sedekah
tertuju. Seperti bunyi hadits di atas, ketika Anda ingin membantu mengatasi
kesulitan orang lain, tahukah Anda siapa yang dimaksud orang lain itu? Siapa
yang saat ini sedang mengalami kesulitan? mana yang lebih utama untuk diatasi
terlebih dulu? :
Mari coba kita petakan.

Pertama, anak-anak yatim. Jelas mereka adalah hamba-hamba Allah yang senantiasa mengalami kesulitan selama mereka masih dalam usia berketergantungan dan belum memiliki kemampuan menghidupi diri sendiri. Mereka adalah titipan Allah kepada hamba lainnya yang mampu dan berkewajiban menafkahi anak-anak yatim.

Kedua, fakir miskin. Mereka kaum lemah yang memerlukan uluran tangan, dengan tujuan agar mereka mampu berdiri dan mandiri. Ingat, konsepnya harus memberdayakan bukan membuat mereka terus menerus tidak berdaya. Sehingga bersedekah harus mentargetkan para penerima manfaat pada beberapa jenjang. Dari penerima meningkat menjadi tak lagi membutuhkan bantuan karena sanggup memenuhi kebutuhannya sendiri. Tak sampai di situ, harus terus mendapatkan bimbingan agar status mereka juga meningkat menjadi pemberi sedekah. Jika semua penerima sedekah kelak akan menjadi penyedekah, indah nian negeri ini.

Golongan ketiga yang berhak mendapatkan sedekah, yakni para janda dan lansia.
Keduanya nyaris memiliki persoalan yang sama, yakni kehilangan sesuatu yang
selama ini menjadi andalannya. Para janda yang kehilangan tulang punggung
pencari nafkahnya, perlu mendapatkan bantuan agar ia terbebas dari kesulitan.
Konsepnya tetap sama, yakni memberdayakan agar kelak mampu menjadi orang yang
mandiri dan bisa menghidupi keluarganya tanpa perlu lagi menunggu bantuan orang
lain. Sedangkan para lansia, mereka telah pula kehilangan masa produktifnya.
Tenaganya tak lagi seperti dulu untuk bisa mencari rizki sendiri.

Golongan lainnya, adalah mereka yang bukan anak yatim, bukan fakir miskin,
bukan pula janda atau lansia, namun tetap membutuhkan bantuan karena tengah
mengalami kesulitan. Antara lain, orang-orang yang terlilit hutang dan
orang-orang yang terkena musibah/bencana.

Bencana alam kerap terjadi di negeri ini, dan setiap bencana menyisakan
kepedihan mendalam bagi para korban. Tak hanya lantaran kehilangan anggota
keluarga yang dicintai, tetap status semi permanen yang berubah dalam sekejap.
Pengusaha berubah menjadi orang yang tak punya apa-apa, dermawan yang tiba-tiba
harus mengemis meminta bantuan, serta orang-orang yang biasa berkecukupan
seketika sangat berkekurangan, untuk mendapatkan makan pagi pun menunggu jatah.
Kehidupan pun berubah drastis, rumah mewah tersulap menjadi tenda darurat yang
harus berbagi tempat dengan ribuan korban lainnya. Sungguh, para korban bencana
juga sangat membutuhkan sedekah dari orang-orang yang tak terkena bencana.

Sejatinya mereka bukan orang-orang yang akan menjadi penerima bantuan terus
menerus, asalkan sedekah Anda tetap tersalurkan untuk mereka. Selama masih ada
orang-orang yang tetap peduli nasib mereka, para korban bencana itu akan segera
terbebas dari status penerima bantuan dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Karena, asal mereka adalah orang-orang yang kuat, mandiri, dan bahkan juga para
dermawan.

Jika Anda senang bersedekah, dan mengalamatkannya kepada anak-anak yatim, bisa melaui kami:

Sabiilun Na’iim Barak Amal `92 (SNBA ’92)
Jl. Letkol Atang Sendjaja, Patambran RW 03,
Desa Semplak Barat, Kec. Kemang, Kab. Bogor 16310
Telp : (0251) 753-8738, 753-4201, 7533536
Hp : 0856-7061265, 0812-1102058, 0818-02944315
Email : snba1992@gmail.com
Blog : Http://snba1992.wordpress.com

Bank Syariah Mandiri
Cabang Kantor Kas Merdeka
No. Rek. 1427002984
An. Achmad Kurnianto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: